# TRANSKRIP MATANG — SATU LINEMASA

## Rapat Koordinasi & Survey Pengabdian Masyarakat

| | |
|---|---|
| **Kegiatan** | Survey persiapan kegiatan Pengabdian Masyarakat (PPM) mahasiswa |
| **Pihak desa** | Sekretaris Desa (Sekdes) Sindang Jaya — narasumber utama; **Pak Deden** (perangkat desa) sebagai narahubung |
| **Pihak kampus** | Tim Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Al-Azhar Indonesia, termasuk Ketua Pelaksana kegiatan |
| **Tanggal survey** | Jumat, 16 Oktober 2026, sore–malam |
| **Tempat** | Aula/kantor Desa Sindang Jaya, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur |
| **Rencana pelaksanaan** | Minggu, 25 Oktober 2026 (kemping mulai Sabtu, 24 Oktober) |
| **Sumber audio** | `PAK DEDEN.mp3` (rekaman utuh awal–akhir) • `Oct 16, 5.53 PM.m4a` + `Oct 16, 6.51 PM.m4a` (perangkat kedua, mulai merekam di tengah sesi) • turunan transkripsi TurboScribe (30 menit pertama) |

> **Catatan penutur:** Label **Sekdes / BEM / Ketua Pelaksana / Panitia** ialah aproksimasi hasil silang dua sumber transkripsi (NotebookLM dan TurboScribe). Batas siapa berbicara di antara anggota tim kampus tidak selalu pasti; isi ucapannya dipertahankan penuh. Ucapan "ee", pengulangan gagap, dan kata tidak jelas yang murni cacat ucapan dihilangkan; istilah hasil salah-dengar dikoreksi (lihat Kamus di Bagian A). Hal yang benar-benar ambigu diberi tanda [?].

---

# BAGIAN A — ANALISIS POLA (KENAPA TAMPAK "DOUBLE" & CARA PEMULIHANNYA)

## A1. Kenapa transkripnya tampak mengulang

Satu sesi percakapan ini **direkam dua kali dari dua perangkat** dan semuanya ikut terunggah:

1. **`PAK DEDEN.mp3` (NotebookLM "Sumber ketiga")** — merekam sesi **lengkap** mulai dari pertanyaan pembuka Sekdes ("…temanya apa? …ketuanya siapa?") sampai salam penutup.
2. **`Oct 16, 5.53 PM.m4a` (NotebookLM "Sumber pertama")** — perangkat lain yang **baru mulai merekam di pertengahan sesi**: paragraf pertamanya (*"Kesejahteraan itu hanya sebatas iuran dari anak-anak… guru PAUD yang sebelum gaji Rp100.000…"*) sama persis dengan titik tengah rekaman utuh. Berhenti di bahasan seblak → ecobrick.
3. **`Oct 16, 6.51 PM.m4a` (NotebookLM "Sumber kedua")** — **kelanjutan** file 5.53 PM: mulai dari "ecobrick tidak tahu mau dibuat apa (asbak? kursi?)" sampai penutup (tukar nomor HP, rundown dikirim H-3).

Bukti duplikasi: kalimat di ketiga file **berurutan sama** dan bisa disilangkan kata-per-kata (mis. kalimat pembuka 5.53 PM ≡ kalimat di tengah `PAK DEDEN.mp3`; kalimat penutup 6.51 PM ≡ kalimat penutup `PAK DEDEN.mp3`). Artinya arsip NotebookLM itu **bukan dua diskusi berbeda**, melainkan satu diskusi yang tertranskripsi dua kali (sebagian tumpang-tindih).

Transkrip TurboScribe (non-premium) hanya memuat **±30 menit pertama**, terhenti di bahasan "masa depan anak" (stunting).

**Kesimpulan:** transkrip matang = **satu linimasa** dari pembuka hingga penutup, disusun dari `PAK DEDEN.mp3` sebagai kerangka utama, diverifikasi dan dilengkapi dengan file 5.53 PM / 6.51 PM serta TurboScribe untuk bagian-bagian yang terdengar lebih jelas di sana.

## A2. Kamus koreksi distorsi ASR (kata salah-tulis → ucapan sebenarnya)

| Terdengar/tulis di transkrip mentah | Sebenarnya |
|---|---|
| Sinang Jaya / Sinanjaya / Sintang Jaya / Sinalda | Sindang Jaya |
| Posiando / Posandu / Posen(d)o / Kosyado / Ko Jadu / yajandu | Posyandu |
| Pak Ud / Pakud / Pak Wud / Pak WUD | PAUD |
| eik / ekoblik / ekobri / kobri / eobrik / EcoBre / publik ("dibuat publik") | ecobrick |
| puffing / paing / pting / buffing block | paving block |
| retana / istana | Retana (Relawan Tanggap Bencana) |
| MBK / MPG / MBJ | MBG (Makan Bergizi Gratis) |
| PRT | PMT (Pemberian Makanan Tambahan) |
| biokori | biopori |
| bioplok / bioplog | bioflok |
| magot / megot / makut | maggot (larva BSF) |
| "cairan jadikan kok/POK" | POC (Pupuk Organik Cair) |
| TPSR | TPS 3R |
| puffing "loles/lolos pengujian" | lolos uji |
| Mandalwangi / Mandalangi / Mandawalangi | Mandalawangi |
| Cibedas / Cebodas | Cibodas |
| Bipit / Mas Uji | Posyandu Pipit / masjid |
| Kanari | Kenari |
| Batu Awam | Batu Awang [?] |
| Lengkhong / Mengkong | Lengkong |
| Haji Band | Haji Bandan |
| Arido | Masjid Arridho [?] |
| Picung | Pesantren Picung (Warungkondang, Cianjur) |
| Bontor | Gontor |
| Pakalongan | Pekalongan *(canda dialek Sunda)* |
| Sagari / Segari | kemungkinan "Segari" (startup penyalur sayur segar) [?] |
| Ranggeng Duta / Langgeng Garjita | PAUD Ranggeng Gadjah [?] |
| Balabung | (nama tempat/cabang, tidak pasti) [?] |
| Adol / Ado | (nama wilayah, tidak pasti) [?] |
| PPL | (istilah pendataan desa, tidak jelas) [?] |
| randon / runon / rondon | rundown |
| infokus | infokus (proyektor) |
| PADS | PADes (Pendapatan Asli Desa) |
| PPJS | BPJS |
| poreni / kursoni | Porseni |
| PPRI | PGRI |
| TPT | (kemungkinan) Tembok Penahan Tanah [?] |
| losbak / losbug | losbak (kendaraan bak) |
| tranter | tronton |
| "usus olahan" di koperasi | (kemungkinan) kripik usus [?] |
| SD Batu Congatu / Batu Batu | (nama SD yang direkomendasi Pak Deden, tidak jelas) [?] |

## A3. Kaidah perapian yang dipakai

1. **Satu linimasa** — urutan topik mengikuti rekaman utuh; segmen tumpang-tindih dari file ganda hanya ditulis sekali.
2. **Setiap isi dipertahankan** — tidak ada dugaan Anda yang benar; yang "salah" hanyalah bentuk kata hasil salah-dengar. Koreksi kata dilakukan dengan konteks kalimat, kebiasaan kosakata Sunda/Jawa, dan silang dua transkripsi.
3. **Tidak menambah informasi** — kalau sesuatu tidak terdengar di ketiga sumber, tidak ditulis.
4. **Ketidakpastian diberi tanda [?]** daripada ditebak.
5. Guyonan, selingan makanan, dan basa-basi tetap dicatat singkat (itu bagian nyata percakapan), tetapi tidak memenuhi transkrip.

---

# BAGIAN B — TRANSKRIP BERSIH (SATU LINEMASA)

## 1. Pembukaan: tema kegiatan & penanggung jawab

**Sekdes:** Berkaitan dengan pengabdian di Desa Sindang Jaya — dari obrolan kemarin katanya ada sekolah, Posyandu, dan masjid. Kalau boleh tahu, temanya apa? Biasanya kegiatan itu ada temanya — tema lingkungan, keagamaan, atau pendidikan. Ini tematik, biasanya dikaitkan satu sama lain. Nanti pelaksanaannya tanggal 25 kan. Saya ingin tahu ini temanya apa. Dan kalau boleh tahu, ketuanya siapa?

**BEM:** Izin menjelaskan, Pak. Sebenarnya ini adalah program kerja dari **Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)**. Adapun yang menjalankan kegiatan ini adalah para **mahasiswa baru**, Pak.

**Sekdes:** Oh, mahasiswa baru?

**BEM:** Iya betul. Mahasiswa baru yang kami kader — tapi kami tidak melepas begitu saja. Di sini kami sebagai konseptor menjembatani mereka, artinya memberikan pelatihan juga. Tidak perlu khawatir, karena kami juga melibatkan pihak dosen selaku pakarnya. Jadi tetap ada pendampingan dari para dosen. Nah, ini **ketuanya**, Pak *(memperkenalkan Ketua Pelaksana kegiatan)*.

**Sekdes:** Oh, ini yang akan melaksanakan. Ketua pelaksanaan. Iya, iya. Silakan.

## 2. Konsep kegiatan di tiga titik

**BEM:** Kalau terkait tema, memang karena penentuannya adalah **tiga titik berbeda**, konsep yang kami bawakan pun beda-beda, Pak:

1. **SD** — opsi pertama yang kami ajukan adalah **workshop pelatihan peningkatan kapasitas guru**. Opsi kedua — kalau ingin lebih sederhana — kami membuka **donasi buku** untuk diberikan ke sana.

2. **Posyandu** — lebih kepada edukasi kesehatan dan peningkatan kapasitas pengurus Posyandu: kesehatan ibu hamil, menyusui, dan balita, juga terkait **stunting**, sesuai dengan program nasional.

3. **Masjid** — yang agak sederhana: kegiatan yang mengarah ke keagamaan dan infrastruktur. Tapi kami tidak ingin *overclaim* akan melakukan pembangunan yang seperti apa — maksudnya **revitalisasi**: pengecatan, bersih-bersih, keramik tempat wudu, dan bagian-bagian yang mungkin perlu dibantu, seperti kipas angin dan segala macam.

## 3. Asal-usul pemilihan lokasi

**Sekdes:** Untuk lokasi ini — kemarin katanya sudah ada titik lokasi. Pertamanya itu tahu dari mana? Lokasinya di Gunung Batu. Sebelumnya apakah ada yang kenal dengan orang wilayah sini sehingga menyarankan ke Gunung Batu? Atau dari pihak media, IG, atau apa? Saya juga tadi teringat, di sana itu namanya Posyandu apa? Kenari? Gitu. Mohon dijawab.

**BEM/Panitia:** Jadi memang pada awal survei kami melihat beberapa titik dari **Google Maps**, yang memang berdekatan dengan lokasi kami, sehingga kami rasa cocok beberapa lokasi ini dijadikan sasaran kegiatan.

Izin, Pak — kebetulan saat ini kami sedang dalam proses **orientasi mahasiswa tingkat fakultas (OSPEK Fakultas)**. Jadi ini ada perwakilan teman-teman mahasiswa baru yang nanti akan pengabdian masyarakat; kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian OSPEK fakultas. Kenapa kami memilih tiga tempat itu? Karena kebetulan **kami akan kemping di camping ground Mandalawangi, Cibodas**. Ketika kami telusuri lewat peta, tiga tempat ini mendekati **pintu tiga gerbang keluar Cibodas**, Bapak. Karena kami harus memobilisasi teman-teman mahasiswa baru dan tidak mungkin pakai kendaraan, jadinya jalan kaki. Setelah kami *tracking*, kurang lebih **2,3 km** sampai Posyandu, sekolah, dan juga masjid. Walau kami sama sekali tidak punya kenalan ke sana — jadi hanya lewat peta, cari informasi, ternyata di situ ada titik yang memungkinkan untuk abdimas.

## 4. Petunjuk medan dari desa: Garuda, Pipit, Kenari

**Sekdes:** Kebetulan di sini yang sebenarnya **berdekatan itu ada titik di Garuda**. Jadi kalau nanti keluar dari pintu tiga, yang berdekatan itu **Garuda**. Kalau yang ke situnya (Kenari) lebih ke atas lagi. Sasarannya di Garuda lebih banyak — itu **paling besar** sasaran pelayanan masyarakatnya: kalau tidak **100 sasaran** dari ibu hamil, balita, dan menyusui. Kemudian lokasinya juga hampir berdekatan; **di Garuda juga ada masjid**. Kalau di lokasi yang tadi — Kenari — jalannya cuma cukup untuk satu mobil. Kalau sekolah memang benar berdekatan dengan pintu tiga. Jadi urutannya: ke sekolah dulu lokasinya, kemudian yang ke atas itu ke **Pipit**, yang turun ke bawah itu ke **Garuda**. Jadi sekolah itu pertengahan antara Posyandu Pipit dengan Posyandu Garuda.

**Panitia:** Nah, nanti dari pintu tiga itu kami akan mobilisasi teman-teman **jalan kaki**. Mungkin kalau pun ada mobil, itu mobil di **hari sebelumnya**, untuk menaruh barang logistik ataupun barang yang akan diberikan ke sana, Pak.

## 5. Kendala pertama: pelaksanaan jatuh hari Minggu (SD libur)

**Sekdes:** Tapi untuk sekolah — kebetulan kan hari Minggu, sekolah libur; guru-gurunya juga pasti libur. Nah, itu bagaimana **mensiasati**-nya? Apakah harus dengan guru SD, atau bagaimana — apakah ini pendidikan untuk peningkatan kapasitas anak didiknya ataupun guru-gurunya? Kebetulan hari Minggu itu libur, apakah ada opsi lain?

**BEM:** Ada opsi lain. Nah, bagaimana ya — mungkin kita diskusi.

**Sekdes:** Pihak desa ingin memastikan bagaimana caranya supaya kegiatan ini berjalan lancar. Jangan sampai kami tidak membantu adik-adik mahasiswa. Kita berusaha memastikan kegiatan berjalan lancar — jangan sampai ketika datang ke sana guru-gurunya tidak ada, muridnya juga hari Minggu tidak ada. Itu akan menghambat kegiatan. Pihak desa insyaallah kalau diminta fasilitas-fasilitas akan bantu: workshop itu nanti ada sound, peralatan-peralatan, (kalau perlu) infokus — kalau tidak ada kami siapkan. Selagi kami bisa bantu, kami bantu, demi lancarnya acara ini.

Saran saya: apakah untuk kepegawaian pendidikan itu bisa dialihkan — misalkan ke pendidikan **TK**? Kalau SD sih yakin libur. Apakah harus ke SD?

**BEM:** Sebenarnya tidak harus, Pak. Karena kami memang melaksanakan program ini berdasarkan kebutuhan atau masalah yang ada di sekitar sini. Makanya di awal, ketika **Mbak Safa dan Mas Rizki** berkomunikasi dengan **Pak Deden** langsung (via Zoom), kami menanyakan permasalahan yang ada di desa ini — kami melakukan **analisis situasional**. Kalau nyatanya pendidikan ini sama-sama lebih membutuhkan peningkatan kapasitas tenaga pendidiknya — butuh edukasi dari para dosen — jadi bidang keilmuan kami ini ada **enam, Pak**, yaitu Fakultas Sains dan Teknologi: **Gizi, Teknologi Pangan, Bioteknologi, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan Informatika**. Jangkauannya luas, ada spesifikasi masing-masing yang mungkin bisa kami berikan ke para tenaga pendidik di sana.

**Sekdes:** Pasti insyaallah menambah ilmu. Tapi intinya tadi: menghadirkan gurunya. Ketika hari Minggu kan mungkin ada yang hadir tapi tidak semua — mungkin hari Minggu ada acara dengan keluarganya. Saya bisa pastikan masih ada yang hadir, tapi kemungkinan tidak *full*: misalkan dari 20 guru, yang hadir 10 orang. Efektifnya kurang. Tapi kami juga akan memastikan ke pihak sekolahnya, diharapkan gurunya hadir — kami dari pihak desa akan berkomunikasi dengan **kepala sekolah** untuk memastikan gurunya hadir, dan anak-anaknya juga kemungkinan bisa hadir.

**BEM:** Kalau terkait hal itu dari saya: kalau memang nantinya tidak bisa maksimal dilaksanakan di hari Minggu, dari analisis yang sekarang Bapak sampaikan, ada opsi lain yang bisa Bapak ajukan?

**Sekdes:** Hari Jumat, misalnya?

**BEM:** Bukan harinya, Pak — maksudnya di **hari yang sama**, mungkin **lokasi lain**.

**Sekdes:** Kalau lokasi lain mungkin guru-gurunya tempat tinggalnya berdekatan dengan titik sekolah. Contoh, guru kan ada yang dari Cianjur, ada yang dari mana-mana. Tapi kedatangan adik-adik mahasiswa mungkin hari ini saja, dan ke depannya persiapan desa akan bantu berkoordinasi. Kami insyaallah akan berkoordinasi dengan beberapa kepala sekolah yang ada di Desa Sindang Jaya — ke SD mana saja yang kemungkinan guru-gurunya bisa hadir dalam acara tersebut.

## 6. Kendala kedua: tanggal 25 = Hari Guru & Porseni di lapangan desa

**Sekdes:** Tanggal berapa? **Tanggal 25** ya?

**BEM:** Iya, 25.

**Sekdes:** Dan di tanggal 25 itu kebetulan **Hari Guru**.

*(Selanjutnya ada selingan guyonan berbahasa Sunda di ruangan.)*

**Sekdes:** Dan di tanggal tersebut ada **Porseni guru**. Guru-guru akan melaksanakan **pertandingan sepak bola** — tentunya guru yang tidak ikut main pun pasti datang memberikan dukungan ke lokasi. Ada pula **surat permohonan**: di tanggal 25 itu **guru se-Kecamatan Cipanas meminjam lahan milik desa** — Desa Sindang Jaya. Kebetulan kita punya **lapangan mini soccer**. Jadi minjam lapangan desa kita. Otomatis bukan hanya guru dari Desa Sindang Jaya — guru-guru lain pun pasti akan hadir ke lokasi di tanggal 25 itu, walaupun nanti acaranya tetap terbagi. Nah, ini jadi pertimbangan: apakah tetap dilanjutkan dengan keadaan gurunya ada acara, ataupun kita **ganti konsep**?

Ini ada permohonannya: tanggal tersebut guru se-Kecamatan Cipanas akan melaksanakan (peringatan) ulang tahunnya di lapang desa — perlombaannya *mini soccer* atau apa, saya juga tidak tahu. Pada intinya **ada acara guru di tanggal 25**. Jadi sebelum acara dimulai di tanggal 25, dari sekarang kita harus pikirkan konsepnya.

**BEM:** Oke, Mas. Berarti dengan kondisi seperti ini, saya sih sudah bisa mengira, Pak — mungkin akan kurang maksimal. Kalau sekiranya ada opsi tempat lain — kan target kami memang dari awal adalah tiga titik ini — itu kira-kira apa ya, Pak?

## 7. Keputusan: sasaran pendidikan dialihkan ke guru PAUD

**Sekdes:** Kalau (untuk titik) pendidikan, bagaimana kalau di **PAUD**?

**BEM:** Di PAUD ya?

**Sekdes:** Iya — kita **kumpulkan PAUD se-desa** saja. Guru-guru PAUD — kan kalau guru PAUD tidak ikut-ikutan acara PGRI. Kita kumpulkan guru-guru TK atau PAUD. Kebetulan di Desa Sindang Jaya ini ada semacam **paguyuban** — kelompok atau organisasi guru PAUD.

Alasannya: kalau **guru SD** itu anggarannya sudah jelas — rutin per 3 bulan sekali melaksanakan peningkatan kapasitas dari dinas; ada kurikulumnya, ada anggarannya. Kalau **guru PAUD** sebenarnya tidak ada — ada pun setahun sekali, hilang-hilang. Sedangkan kesejahteraan guru PAUD hanya sebatas **iuran dari anak-anak murid**: ada guru PAUD yang sebulannya bergaji **Rp100.000**. Otomatis untuk peningkatan kapasitasnya juga sangat minim, dengan gaji yang minim juga. Setidaknya ketika kita datang memberikan ilmunya — untuk menambah wawasan guru-guru tersebut. Kalau guru SD kebanyakan ASN — suka ada pembinaan dari dinas. Tapi guru PAUD itu honor, tidak digaji negara, digaji iuran masyarakat. Mereka sebenarnya yang harus banyak mendapat perhatian.

**BEM:** Kalau untuk guru PAUD, lokasinya bisa di mana?

**Sekdes:** Lokasinya terserah — terserah kita mau mengumpulkan di mana: mau di **aula**, atau di tempat lain; atau kita tunjuk satu PAUD yang ada di Sindang Jaya, nanti PAUD-PAUD yang lain datang ke sana.

**BEM:** Oh, kalau aula itu di sini ya, Pak? *(maksudnya: di kantor desa ini)* — iya, mungkin itu bisa jadi **opsi pertama** kami ya, Pak. Kalau yang **masjid dan Posyandu** mungkin itu tetap *fix*?

**Sekdes:** Kalau masjid bolehlah yang di sana kan. Posyandu juga boleh, yang di sana kan.

**BEM:** Kalau Posyandu kami butuh target yang dituju ya, Pak — seperti ibu-ibu yang mungkin anggota-anggota Posyandu itu sendiri — anggota ibu-ibunya juga harus hadir kan. Artinya nanti kami akan berkoordinasi dengan **Pak Deden**; teman-teman panitia (mengatur) kehadiran mereka seperti itu, Pak.

**Sekdes:** Untuk PAUD insyaallah bisa dipastikan **tidak ada masalah**; untuk masjid juga tidak ada masalah. Tapi kalau guru SD — kebetulan lagi ulang tahun, ada acara — kemungkinan kalau bisa kita **alihkan ke guru PAUD**. Sama-sama guru lah.

## 8. Skema teknis pelaksanaan (rundown kasar)

**BEM:** Selanjutnya saya jelaskan skemanya ya, Pak. Untuk teknis pelaksanaan secara *rundown*: kita sebenarnya **hanya punya waktu 3 jam**. Sebelum zuhur kami lakukan mobilisasi ke lokasi, kemudian pelaksanaan (mulai) setelah zuhur sampai dengan menjelang asar. Dan itu dilaksanakan **serempak di tiga titik berbeda** — jadi kelompok-kelompok ya. Teman-teman yang di masjid tidak butuh audiensi — pelaksanaannya *cleaning* saja, sederhana. Kalau di Posyandu dengan target ibu-ibu Posyandu yang perlu diberi edukasi; begitu pula di PAUD targetnya ibu-ibu guru PAUD. Mengenai persiapan acara — nantinya yang menyiapkan adalah teman-teman panitia: di masing-masing lokasi kami butuh apa yang bisa kami beri ke audiensnya, lalu akan ada **spanduk**. Gambaran kasarnya baru seperti itu, Pak.

**Sekdes:** Kebetulan di lokasi Posyandu itu **ada PAUD-nya**.

**BEM:** Oh, begitu. Jadi memang berdekatan?

**Sekdes:** Jadi (gedung) Pak U[d] itu sehari-hari (dipakai) PAUD, dan **sebulan sekali dijadikan Posyandu**.

**BEM:** Sebulan sekali? Jadi tempatnya sama. Berarti Posyandu itu tidak ada tempat sendiri?

**Sekdes:** Tidak ada. Kebanyakan Posyandu di sini itu **di rumah warga** — tidak punya bangunan. Ada beberapa (yang punya gedung), tapi kebanyakan tidak. Kalau soal membangun gedung sih bisa, tapi kan **tanahnya kadang susah**.

**BEM:** Karena kebetulan kita sudah 1 minggu sebelum pelaksanaan ini ya, Pak — maksudnya kurang lebih 1 minggu (lagi): tanggal 24 sampai 25; insyaallah kami akan melaksanakan **tanggal 25**.

## 9. Permintaan fiksasi kebutuhan kepada desa

**BEM/Panitia:** Kira-kira untuk **rekomendasi dan fiksasi** dari Bapak selaku **Sekretaris Desa** (kemudian dari Desa Sindang Jaya): kebutuhan masyarakat saat ini apa saja ya, Pak? Apakah ada (masalah) Posyandu? Kan dari catatan yang kami terima kemarin ada **masalah pelayanan kesehatan**, kemudian **sampah** — apakah memang masih menjadi masalah? Karena kebetulan kami dari Fakultas Sains dan Teknologi — 6 prodi, cukup lengkap: Industri, Elektro, Informatika, Gizi, Bioteknologi, dan Teknologi Pangan — kami juga memiliki dosen-dosen pakar, para guru besar, yang insyaallah siap, entah penyuluhan ataupun memberikan pendampingan bagi masyarakat, jika memang terdapat permasalahan itu. Sehingga kalau sudah *fix* sekarang, kami akan mudah terus berkoordinasi ke Pak Deden. Kalau belum *fix* kan khawatirnya nanti mendadak ke Bapak dan perangkat desa. Jadi kira-kira bagaimana, Pak? Apakah langsung kita fiksasi perihal tempat dan kebutuhannya?

Selain penyuluhan, insyaallah ada (bantuan) — mungkin, kalau saya lihat, spanduk-spanduk di depan ini sudah ada ya, Pak — alat/media edukasi untuk **komposter sampah**-nya. Tapi tidak tahu apakah memang sudah menyebarluas atau ada hal yang perlu kami tambahkan — entah kami menambah sebuah metode tambahan untuk mengolah sampah, atau bagaimana gitu, Pak.

## 10. Sampah: kompos sudah jalan, ecobrick malah menumpuk

**Sekdes:** Kebetulan untuk **kompos** memang ada edukasinya, alhamdulillah sedikit-sedkit masyarakat paham. Sampah bekas sayuran itu diolah dijadikan **pupuk**, dan cairannya dijadikan **POC (pupuk organik cair)**. **Yang jadi permasalahan ini sampah plastik.** Kita edukasi masyarakat membuat **ecobrick**, dan ya sudah — ecobrick sudah dibuat masyarakat. Setidaknya belum semua masyarakat teredukasi, belum semua melaksanakan sampai dijadikan ecobrick; tapi kita bertahap untuk tidak buang sampah sembarangan dan menjadikan sampah plastik itu ecobrick.

**Tapi sekarang ada penumpukan ecobrick** — menumpuk di sana/di gudang. Mungkin nanti ada inovasi, ada ilmu: bagaimana cara mengolah ecobrick itu menjadi bermanfaat. Masyarakat kan sudah ada solusinya: sampah dijadikan ecobrick. Tapi setelah jadi, itu **untuk apa**? Nah, itu yang jadi kendala desa. Ujung-ujungnya kan jadi sampah lagi — sampah ecobrick. Kalau sampah sudah diminimalisir — sampah berserakan dijadikan ecobrick, terus ecobrick-nya kita juga bingung — apakah mungkin nanti dari dosennya, para guru besar, memberikan ilmunya, menjadikannya sebagai (bahan) perubahan di masyarakat; dibuat ecobrick itu jadi bahan yang bermanfaat. Apakah dibuat TPT [?], atau dibuat apa — kita enggak tahu ilmunya.

Seperti itu kan permasalahannya, kaitannya dengan sampah. Ketika itu sudah ada solusinya, masyarakatnya berantusias: tidak buang sampah sembarangan, antusias dibuat ecobrick. Tapi kan sekarang bingung: **masyarakat kembali lagi ke kebiasaan semula**, karena ketika sudah dibuat ecobrick itu tidak ada manfaatnya untuk apa — jadi sampah lagi, sampah ecobrick. Dengan adanya nanti rekan-rekan mahasiswa mungkin ada pencerahan, ada ilmu, dibantu dosen: ketika sudah ada solusi (ecobrick dijadikan apa yang lebih bermanfaat), masyarakat yakin tidak akan buang sampah sembarangan lagi. Insyaallah permasalahan sampah di Sindang Jaya tertangani.

Kalau sekarang kan bingung — kemarin ramai-ramai (buat ecobrick), sekarang sudah menumpuk di gudang, desa juga kebingungan; jadi ujung-ujungnya masyarakat kembali buang sampah sembarangan, karena ecobrick tidak ada manfaatnya.

**BEM/Panitia:** Katanya dulu (ecobrick) dibuat **TPT** bisa — tapi kan belum ada uji/penelitian: apakah kekuatannya? Pernah dijadikan TPT kan, tapi kan belum ada kajian ke sana. Oke, baik, Pak.

## 11. Kesehatan: KB, vaksin, dan stunting

**BEM/Panitia:** Itu tadi masalah sampah. Kemudian kemarin Bapak juga sempat *mention* masalah Posyandu/kesehatan. Kira-kira — kebetulan kami juga ada **dosen Gizi**, karena stunting — apakah memang masih bisa kami lakukan sosialisasi ataupun penyuluhan gizi itu? Kira-kira nanti **targetnya siapa dan di mana**, Pak?

**Sekdes:** Mungkin targetnya nanti **ibu-ibu** yang (warga) sasaran sekitar. Nanti kebutuhannya untuk berapa orang, nanti disiapkan ibunya. Kebetulan di sana itu — di **Gunung Batu** — ada beberapa yang, mungkin dari pemahaman agama: **tidak boleh di-KB, tidak boleh disuntik vaksin**. Jadi otomatis perkembangan tubuh anaknya terganggu, kesehatannya juga terganggu. Kemudian kebanyakan (yang ber)pemahaman itu — ketika sakit tidak dibawa ke rumah sakit, cuma di rumah saja diobati tradisional. Ada semacam itu, masih banyak. Jadi di sini program **vaksin** dulu susah; program **KB** juga susah mengedukasi masyarakat. Apalagi ustaz-ustaz yang fanatik terhadap agama — itu wah: di-KB **haram**. Jadi anaknya banyak, sedangkan usahanya **nyangkul** (bertani/buruh tani), otomatis kesejahteraan jadi turun. Anaknya banyak tapi tidak disekolahkan karena tidak punya biaya. Asupan gizinya karena sehari-harinya jarang makan daging misalkan, jarang makan bergizi, jarang minum susu misalkan — otomatis tumbuh kembang anaknya juga terlambat. **Banyak yang stunting itu dari kalangan ustaz** — bukan ustaz ya, cuma orang-orang yang mengarah ke fanatik agama. Dan mungkin di sini ada korelasinya dengan (Al-Azhar kan) lembaga agama — memberikan pemahaman apa yang haram atau tidak.

Contoh di sini: ustaz-ustaz yang kemarin dibagi bantuan stunting itu kebanyakan pakai sarung, pakai peci, bawa anak; pas ditanya kerjanya apa — *nyangkul*. Sedangkan anaknya tidak sekolah, **SD juga tidak tamat**, karena doktrin ayahnya "sekolah itu haram" — kemudian ya tidak ada biaya. Ya kita prihatin juga untuk masa depan anaknya ke depannya. Setidaknya kalau tidak sekolah kan masa depannya bagaimana? Dan juga tumbuh kembang anaknya kalau stunting — dari sisi kecerdasan, ke depannya sering sakit-sakitan, kasihan juga.

Jadi permasalahannya: bagaimana caranya memberikan penyuluhan bahwa **pendidikan umum dan pendidikan agama itu wajib**, dan bahwa kaitan dengan KB, kaitan dengan suntik vaksin itu **sebenarnya tidak haram**, dan setidaknya bisa membantu kita. Ada juga anggapan — "suntik itu mati" atau apalah, pemahaman seperti itu — jadi pada takut. Jadi kendala di desa sebetulnya, selain sampah, juga pemahaman ini. Dan **masalah di Desa Sindang Jaya (kasus) terbesar kedua setelah Batu Awang — yang banyak stunting-nya.**

**Panitia:** Oh, di Kabupaten Cianjur?

**Sekdes:** Di kecamatan.

## 12. Pemahaman keagamaan fanatik: sebaran, sumber, dan wilayah

**Panitia:** Pak, izin nambah tanya: masalah fanatisme itu apakah memang cukup banyak masyarakatnya, atau memang segolongan sekelompok saja?

**Sekdes:** Untuk di Gunung Batu ini bisa jadi untuk di Desa Sindang Jaya **70%**.

**Panitia:** 70% — berarti hampir setengahnya lebih *(catatan: angka per-ucapan)*.

**Sekdes:** Iya. Dan itu sangat menghambat; juga jadi polarisasi pemikiran di sini — antara yang manut dengan peraturan pemerintah dengan yang tidak manut. Ada polarisasi di sana. Contohnya: kalau ada kegiatan keagamaan di sini, ustaz-ustaz yang bergandengan tangan dengan pemerintah ya hadir. Tapi masyarakat atau tokoh agama yang tadi itu — ke pemerintah itu dianggapnya **zalim**: "ngapain kita nurut pemerintah." Malahan dari pemilihan juga — datang-datang ke TPS tapi **tidak memilih**. Katanya — ketika saya minta penjelasan dari beberapa orang — "nanti kalau kita pilih pemimpin dan dia menang lalu korupsi, akan terbawa-bawa dosanya." Pemikirannya seperti itu.

Malahan **pengeras suara juga tidak boleh** — *speaker* buat azan juga tidak boleh. Kalau ada azan itu, kalau pengajian pakai mic itu tidak boleh. Kemudian Rajaban pakai *sound* itu tidak boleh. Begitu. Tapi kalau anak-anak muda sebenarnya suka *sound* — dangdutan juga suka. Tapi karena orang tuanya seperti itu, tertahan juga.

**Panitia:** Itu (ke benaran) pemahaman agamanya kan mungkin harus dikaji dulu dari ilmu agama — dari Al-Qur'an, dari hadis juga, mungkin ya?

**Sekdes:** Betul. Tapi ini mah "kata gurunya tidak boleh" — ya ikut saja, "tidak boleh", kata gurunya. Kan kalau di Cianjur terkenal dengan **Picung**.

**BEM/Panitia:** Picung itu apa?

**Sekdes:** Picung itu pesantren yang mengharamkan-mengharamkan itu. Ada gurunya (di sini) dari Picung. Picung itu (di) Cianjur, **Warungkondang**. Mengharamkan *speaker* gitu — tapi HP punya, gitu. Nah, itu jadi imbasnya ke desa juga: anaknya tidak boleh sekolah; kemudian ke pemerintahan, program (pemerintah) tidak bisa dijalankan. Kita juga (usaha) — karena kalau langsung terjun ke lapangan, berhadapannya dengan orang yang tertutup. Diajak rapat … Contoh di sana itu, di **Lengkong**, ada namanya **Haji Bandan** — ketika **sensus** (petugas datang) pun tidak dibuka rumahnya.

**Panitia:** Otomatis kita mau mendatanya (bagaimana). Susah juga. Apakah (dia) non-terafiliasi dengan kelompok tertentu, Pak, atau dia menamakan satu organisasi/tarekat, atau apa?

**Sekdes:** Kalau itu sih dari guru pesantren — kan di sini ada (cabangnya) di wilayah sekitar [?]. Kebanyakan di sana itu **salafi** — tidak sekolah (umum), cuma pesantren saja; tidak ada penyeimbang. Tapi insyaallah kalau (lokasi) yang (akan dikunjungi) itu kami pastikan *welcome* — kebetulan sesepuhnya yang (dulu) mengharamkan itu **sudah meninggal**, sekarang diisi oleh pemuda. Kalau yang di sana — saya pastikan, yang di masjid yang di sana itu — kalau tidak salah **Arridho** atau apalah masjidnya — itu dipastikan **aman** lah, kita ke sana juga bisa. Tapi ada tempat memang — yang dari **Jolok**, (dan) Lengkong, **Padajaya**, dan **Gunung Batu atas** — memang itu anti, sebenarnya. Tapi yang sekarang akan dikunjungi, insyaallah itu **aman**.

## 13. Sampah organik: biopori belum ada, biogas rusak, peluang maggot

**Panitia:** Pak, izin tanya lagi. Untuk pengelolaan sampah di sini memang fokus ke anorganik, atau yang organik masih bisa kami tambahkan — atau (sosialisasinya) belum menyeluruh? Kan di sini ada komposter; apakah di sini sudah lumrah atau sudah familiar dengan **biopori**, mungkin?

**Sekdes:** Kalau biopori **belum**. Kalau **biogas** sudah — tapi kemarin ada **kerusakan kompor**. Mungkin di sana kan, di tempat — **TPS 3R** — banyak orang keluar-masuk, mungkin yang masuk itu merusak kompornya, jadi belum berfungsi. Kalau sebelum-sebelumnya sih biogas berjalan. Ada pemilahan sampah: **sampah basahnya dimasukkan ke biogas; sampah keringnya dibuat ecobrick.**

**BEM:** Oh, oke. Kalau begitu, mungkin nanti kami juga — selain edukasi anorganik — bisa juga (edukasi) organik tapi dengan metode lain. Kalau organik, kebetulan **dosen-dosen kami punya pengabdian masyarakat mengelola sampah organik pakai maggot**, Pak. Maggot itu kan semacam belatung (larva BSF). Dari olahan sampah itu, maggot-nya bisa jadi **pakan ternak** — jadi nambah **nilai ekonomis**. Kalau komposter kan sudah dipakai untuk pupuk saja; tapi kalau maggot ini bisa dipakai buat makan ternak, bisa dipakai buat apa pun itu, Pak. Nanti selanjutnya akan kami tambahkan lagi.

## 14. Sarana Posyandu menurun & dampak pemotongan dana desa (85% untuk MBG)

**Panitia:** Kemudian untuk Posyandu tadi — gizi, stunting — apakah di Posyandu itu alat-alatnya cukup, Pak, atau memang tidak memadai?

**Sekdes:** Kebetulan kalau sekarang — kan dulu disupport dengan **dana desa**: kita *support* alat-alat penunjang untuk pelayanan masyarakat Posyandu. Kebetulan **tahun ini dan 5 tahun ke depan tidak ada lagi dana desa** untuk *support* ke Posyandu. Kebetulan di tiap Posyandu itu **alat tensi rusak**, kemudian **timbangan juga sudah rusak** — (ya,) timbangan bayi. Ada beberapa di Posyandu — kalau di Kenari itu rusak atau tidak (saya kurang tahu); tapi ketika saya survei ke bawah — ke wilayah sana — ada beberapa peralatan yang memang rusak: tensi rusak, kemudian alat-alat — alat ukur (tinggi) itu ada yang **hilang**, ada yang rusak.

**Panitia:** Tapi Posyandu di sini memang aktif dipakai, Pak?

**Sekdes:** Oh, **aktif**. Memang fasilitasnya (ada yang) rusak. Kemudian **kasur (Posyandu)** juga kan dulu setiap tahun dianggarkan — tapi dikarenakan **dana desanya turun, dipangkas 85%, dialihkan untuk MBG (Makan Bergizi Gratis)**, jadi: semua **infrastruktur** kita tidak bangun; **pendidikan** kita tidak bangun; kesehatan — kegiatan kesehatan tidak jalan; peralatan-peralatan penunjang kesehatan tidak kita anggarkan, karena uangnya enggak ada — **dipangkas 85% untuk MBG**.

**Panitia:** Sedangkan MBG-nya jalan, Pak?

**Sekdes:** Ya jalan — MBG jalan, tapi kan **langsung dipotong di pusat, tidak lewat desa**. Nah, itu harus jadi perhatian juga; dampaknya masyarakat di bawah, kami kesulitan: banyak bencana kita tidak bisa bantu; kemudian ada **jalan usaha tani** untuk pasok sayuran, kita tidak bisa bangun — otomatis pasokan sayuran ke kota terhambat ketika jalannya rusak.

## 15. PMT ikut hilang — gizi balita stagnan

**BEM/Panitia:** Baik. Berarti di Posyandu juga ada kendala untuk gizi. Nah, Pak — tadi kan bagiannya (masuk ke isu) PAUD. Oh ya, selain itu ada hal lain?

**Sekdes:** Selain tadi soal edukasi masyarakat dan kesehatan, ada juga soal **PMT (Pemberian Makanan Tambahan)** — biasanya ada (anggaran) dari desa: makanan tambahan untuk anak, untuk peningkatan gizi. Itu sekarang — karena dana desa dipotong untuk MBG — **enggak ada PMT-nya** gitu kan. Masa anak balita dikasih ayam — kan balita itu biasanya agar-agar, atau bubur kacang, atau apa; ini dikasih **ayam yang keras** — mana mungkin dimakan balita? Jadinya dimakan oleh ibunya, bapaknya. Sedangkan anggaran PMT dari dana desa itu — bukan dihapus ya — anggarannya tidak ada, dipangkas. Otomatis gizi balita tidak ada perubahan; asupan gizinya tetap. Contoh: katanya **MBG untuk gizi** — tapi di lapangan hasilnya tempe yang keras, enggak mungkin dimakan balita — ya dimakan ibunya. Untuk anak usia 3 tahun — (apalagi) 2 bulan, 3 bulan, 1 tahun — dikasih ayam goreng?

**Panitia:** Oh, jadi PMT-nya dipotong — sudah gitu bahan gizinya di sini malah tidak maksimal juga, ya, Pak?

**Sekdes:** Bukan (kasus) di Desa Sindang Jaya saja, tapi kondisi riilnya memang seperti itu. Untuk gizinya: contoh dikasih **sayur pokcoy** kan enggak bakalan masuk (ke) anak usia baru lahir atau 3 bulan. Jadi terkendala masalah makanan tambahan — ini juga (warga) **menjerit di bawah** sebenarnya, "Pak, kenapa PMT tidak dianggarkan?" — karena uangnya enggak ada. Padahal PMT itu butuh untuk anak-anak; contoh makanan tambahan gizi anak ya seperti **bubur kacang**, dikasih **rebus telur**, dikasih **bubur** — itu kan cocok. Kalau di MBG lebih kepada secara umum: daging ayam, dari dewasa, SMA, sampai anak-anak, harus makan itu. Kalau (anak) SMA sih bolehlah, tapi untuk bayi enggak bakalan bisa makan ayam itu.

## 16. Kondisi PAUD di desa

**BEM/Panitia:** Kalau memang tidak memungkinkan (sasaran guru SD), kondisi PAUD saat ini di sini seperti apa, Pak, dalamnya? Teman-teman mahasiswa baru ini juga punya rencana membuat **media edukasi** — karena kalau PAUD, yang jadi konsen pasti guru-guru butuh media edukasi yang menyenangkan buat anak-anak. Di sana apakah memang cukup, atau seperti apa, Pak?

**Sekdes:** Sebenarnya untuk PAUD, ada PAUD yang memang **maju**.

**BEM/Panitia:** Oh?

**Sekdes:** Kalau yang maju mah bukan jadi pemikiran kita. Tapi ada memang guru-guru PAUD yang **khusus konsen kepada anak-anak yang tidak mampu**. Di sini juga ada PAUD — PAUD unggulan dengan fasilitas lengkap: ada PAUD **Ranggeng Gadjah** [?] itu pernah **juara nasional** di sini — tapi isinya itu anak-anak pejabat, fasilitasnya lengkap lah. Yang jadi **konsen kita** itu adalah masyarakat yang ingin anaknya belajar tapi **tidak mampu** — ya (PAUD) biasa di wilayah-wilayah gitu. Tentunya kalau lihat dari fasilitas, kurang memadai — namanya juga iuran masyarakat yang tidak mampu. Kalau yang mampu, bukan konsen kita. Kita lebih kepada masyarakat yang ingin anak-anaknya belajar tapi fasilitasnya kurang. Kalau PAUD-PAUD di wilayah itu memang **belum lengkap** sebenarnya — yang lengkap cuma satu, (di) Ranggeng Gadjah itu.

**Panitia:** Lengkap itu dalam konteks apa, Pak? Apa yang belum lengkap?

**Sekdes:** Misalkan untuk **media-media pembelajaran** kan masih sederhana. Kemudian **bangku-bangku**-nya juga masih ada yang (dipakai) — enggak ada bangku. Nah, seperti itulah. Kemudian untuk **media peraga**-nya — kan kalau anak itu ada media peraga — (di PAUD kampung) sederhana, ala kadarnya lah. Kalau (PAUD) favorit mah banyaklah peraga untuk menunjang pembelajaran. Tapi PAUD yang sederhana di kampung-kampung itu ala kadarnya: gurunya hadir saja sudah alhamdulillah; yang penting anak ini bisa nulis — (guru sampai) *bete* gitu kan. Tapi ketika ada alat peraga atau video atau apa — anak-anak juga termotivasi untuk belajar.

**BEM/Panitia:** Ada dokumentasi foto PAUD-PAUD yang ada di sini, Pak?

**Sekdes:** Oh, ada, ada. Nanti mungkin bagian (tim) media — fotonya nanti saya kirim.

**BEM/Panitia:** Oke, siap. Berarti nanti kami bisa hubungi lebih lanjut, Pak. Kemudian untuk Posyandu saat ini: apakah memang masih membutuhkan atau masih kurang media-media edukasi — seperti **poster** atau media edukasi buat stunting, bagaimana pencegahan stunting?

**Sekdes:** Untuk poster sih sebenarnya sudah ada, tapi mungkin **belum lengkap**. Contoh misalkan di Posyandu **untuk lansia** — untuk menjaga kesehatan, ada pantangan-pantangan untuk darah tinggi atau apa kan. Karena sasaran Posyandu itu bukan anak-anak kecil saja — sampai lansia. Mungkin ada edukasi seperti itu kan.

**BEM/Panitia:** Oke, siap, Pak. Berarti yang tadi untuk PAUD — isi-isinya masih kurang ya, Pak. Jadi kalau misalnya kami akan mendonasikan buku-buku bacaan — bisa saja (dibuatkan) **pojok literasi** di PAUD atau mungkin di SD gitu ya, Pak.

## 17. Pertanian: komoditas, semua dijual mentah

**BEM/Panitia:** Selain itu apa lagi, Pak, kira-kira yang memang sampai saat ini belum teratasi dan jadi permasalahan di warga — entah sektor pendidikan atau pertanian?

**Sekdes:** Ya itu kan tadi — selain yang sudah disebutkan, tentang edukasi masyarakat dan kesehatan, tadi juga sudah ada soal **infrastruktur** sebenarnya.

**BEM/Panitia:** Pak, kalau boleh tahu, **profesi** sebagian besar warga di desa?

**Sekdes:** Petani!

**BEM/Panitia:** Komoditasnya apa, Pak, paling besar?

**Sekdes:** Sayuran. Komoditasnya: **pokcoy** — hmm — sawi, wortel ada juga, tomat juga ada, **bawang daun**.

**BEM/Panitia:** Oh, bawang daun — ada bawang (merah) atau bawang daun?

**Sekdes:** Bawang daun — daun bawang saja.

**BEM/Panitia:** Berarti komoditas terbesar di sini ada apa lagi, Pak? Wortel?

**Sekdes:** Wortel ada. Tapi yang **lebih banyak itu antara bawang daun dan pokcoy**. Lainnya ada juga brokoli — kemudian paling banyak empat ini: **bawang daun, pokcoy, wortel, dan brokoli**, dan kubis/kol juga ada. (Yang lain) cuma perorangan, seperti buncis — ada tapi tidak dengan lahan besar.

**BEM/Panitia:** Terus kira-kira dari sayuran itu, berarti warga hanya jual produk mentah saja, Pak? Ada yang pernah diolah tidak, Pak?

**Sekdes:** Oh, **belum ada**, gitu. Mungkin kurangnya inovasi, kurangnya pemahaman di sini. Cuma nanam, dijual, udah aja. Kan seharusnya kalau mau ada nilai tinggi dari suatu produk — ya diolah. Tapi di sini tidak ada ilmunya; enggak punya ilmunya gitu — mengolah bawang jadi keripik kan enggak punya ilmunya.

**BEM/Panitia:** Nilainya lebih berharga ketika diolah kan? Misalnya bawang — apakah dibuat **keripik bawang** — yang tadinya di sini Rp1.000 per kilo — bisa bernilai tinggi harganya. (Lalu) kita bisa membeli (langsung) dari petani, Pak, atau bagaimana?

**Sekdes:** Oh, bisa — di sini memang petani, bisa beli langsung.

**BEM/Panitia:** Kalau boleh tahu, tadi sayuran komoditas terbesar di sini — pokcoy dan bawang?

**Sekdes:** Bawang daun — daun bawang saja.

**BEM/Panitia:** Oke. Dan dua komoditas terbesar itu **sering menghasilkan sampah organik** di situ? Kenapa bisa menghasilkan, Pak? Apakah memang ada yang tidak layak?

**Sekdes:** Iya — kan kalau (saat) dikirim ke pasar itu harus disortir dulu; yang buruknya dibuang dulu, kemudian daun-daun yang kering dibersihin dulu. Otomatis sisa daripada itu — sampah organik — dibuang. Misalkan pokcoy: kalau (dikirim) ke Jakarta pasti yang segar saja, yang bagus — yang terkena ulat kita patahin; ada yang kena penyakit, daunnya kuning, ya kita patah — itu jadi sampah organik. Enggak mungkin dikirim (bersama) yang kuning-kuning — kan kalau di Jakarta, di supermarket, sudah kelihatan mulus-hijau. Kalau di sini kan diproses dulu: dari kebun ada yang bolong-bolong (kena ulat), ada yang kena pestisida, ada yang kuning — ya dibersihin dulu, dipotek-potekin. Nah, **hasil potekannya itu jadi sampah**.

**BEM/Panitia:** Oke, Pak. Kemudian untuk di masjid-masjid sini itu ada kendala apa, Pak? Selain tadi (tidak punya) fasilitas kamar mandi (yang memadai) — apakah (termasuk) fasilitas kebersihan — alat-alat salat, apakah…

## 18. Kondisi masjid

**Sekdes:** Kalau secara keseluruhan sih (baik) — tapi kalau secara spesifik masjid itu mungkin harus ditanya dulu (per masjid), kalau tujuan ke sana. Untuk sebagian besar masalah masjid yang ada di Desa Sindang Jaya itu **lebih kepada infrastruktur** sebenarnya: **WC-nya yang kurang layak**; kemudian ada **karpetnya yang sudah kusam**; (atau) **catnya**. Itu lebih ke situ. (Ada juga masjid yang karpetnya masih bagus — ada yang putih, biru — tetapi kebanyakan kendalanya dari bangunan: WC dan karpet.) Sisanya secara *general* aman saja.

## 19. Ringkas: tiga masalah besar + kemandirian ekonomi yang belum terbentuk

**BEM/Panitia:** Berarti sejauh ini: sampah **anorganik** yang paling besar; kemudian penyuluhan gizi, apalagi untuk pemahaman-pemahaman yang masih anti (KB/vaksin). Terus kalau komoditasnya berarti mentah saja ya, Pak — berarti masih perlu ada edukasi atau inovasi untuk diolah gitu kan.

**Sekdes:** Ya, enggak ada inovasi (produk) olahan. Yang mau bernilai tinggi itu harus diolah dulu (benar). Sedangkan ilmunya di sini — kebanyakan pemudanya karena **mengurus lahan jadi tidak sekolah**; tapi sekarang-sekarang banyak juga yang sekolah. Dulu itu (habis) tamat SMA disuruh garap lahan — jadi di kebun aja. Ada sih pengusaha di sini, tapi bukan orang sini. (Konon) dia itu dari ITB, atau IPB, kalau tidak salah — pabriknya di sini, (hasilnya ke) supermarket di Jakarta. Kemarin di **Segari/Sagari** [?] tuh — katanya lulusan ITB atau IPB — datang ke sini, buat perusahaan di sini, (hasil kebun sini) dikirim ke Jakarta. Kemudian di bawah (desa) itu ada — yang perusahaan-perusahaan sayuran itu **kebanyakan orang luar**. Kemudian di sana (ada) **Bu Haji Warda** — punya lahan bawang daun; dia datang ke sini, lihat potensi — wah ini ekonomis — sekarang **memiliki perkebunan bawang daun terluas di Gunung Batu**, rumahnya juga sudah besar. Nah, seharusnya itu warga sekitar — tapi kebanyakan (pelakunya) dari luar; saya juga aneh — orang asli sini jarang. Warga lokal paling banter jadi **bandar-bandar sayuran** skala lokal — semacam itu, omzetnya kecil.

**BEM/Panitia:** Sampai saat ini desa **masih belum ada produk UMKM hasil olahan sendiri** ya, Pak? Padahal komoditasnya besar banget, tapi masih didistribusikan hasil mentah. Contoh: keripik pokcoy atau **keripik wortel** enggak ada gitu — justru kalau ada tamu datang ke sini, masa oleh-olehnya sayuran mentah aja. Kan sekarang tren sayur **dehidrasi** (dikeringkan) — jadi camilan sehat; salah satu yang di-dehidrasi itu wortel— di sini enggak ada yang dibuat camilan seperti itu?

**Sekdes:** Dikeringkan? Enggak ada.

**BEM/Panitia:** Kalau boleh spesifik, Pak — komoditasnya tadi pokcoy, daun bawang, wortel… apalagi, Pak?

**Sekdes:** Brokoli ada — udah sih segitu. Sisanya memang enggak ada (skala besar).

*(Selingan hangat soal kol goreng + ayam penyet, dan rekomendasi makanan khas: RM **Munir**, **Alam Sunda**, dan **sate Sari Asih** — yang di sini katanya ramai sampai dijadikan langganan artis: "Kalau ke Cipanas belum nyobain Munir dan sate Sari Asih itu belum afdol.")*

**BEM/Panitia:** Berarti dari komoditas yang melimpah itu, permasalahannya adalah **kemandirian masyarakatnya** belum terbentuk untuk memanfaatkan komoditas utama — masih ikut wadah orang lain. Nah, ada enggak, Pak, wadah buat para petani?

**Sekdes:** **Enggak ada.** Kalau guru PAUD tadi ada paguyuban; kalau petani enggak ada paguyubannya. Ya **kelompok tani ada, tapi enggak aktif**. Jadi enggak ada — katakanlah — "Ikatan Petani Sindang Jaya". Ada sih (kelompok tani) — cuma salahnya dari dinas juga: yang menjadikan (anggota) kelompok tani itu bukan petani — yang bukan petani dijadikan anggota; yang punya lahan (doang) atau yang enggak punya lahan — jadikan kelompok tani.

**BEM/Panitia:** Sebenarnya permasalahan itu yang (paling) tahu dari desa. Kalau dari pusat kan cuma sebatas (laporan) — pendistribusian pupuk subsidi "berjalan lancar". Kalau di sini, lancar, Pak?

**Sekdes:** Ya, kalau di sini **lancar** — buktinya … Tapi mungkin ini jadi sampel: mungkin desa-desa lain juga seperti ini.

## 20. Peternakan, dan bioflok yang mangkrak

**BEM/Panitia:** Tapi Pak — di sini komoditas **peternakan** memang ada, Pak? Misalkan ada yang budidaya **ayam petelur** atau **lele**?

**Sekdes:** Kalau lele, di sini **airnya dingin** — perkembangannya kan (jadi) lambat. Kalau ayam itu **jarang**. Sapi jarang — ada sih, jarang (peternakan sapi di dekat Gunung Batu, hanya sebagian orang): **sapi perah**. Nanti (kalau) kunjungan boleh — cukup sih.

*(Di bagian berbeda, BEM/Panitia menyinggung: di sini kan ada (alat) **bioflok**, Pak?)*

**Sekdes:** Iya, biofloknya itu kan sudah ada alatnya. Tapi kan tidak berjalan karena memang **kurangnya modal** — sudah ada beli alatnya tapi (katanya) tidak ada modal (lagi), buat ikan ya — dengan modal dan juga edukasi terhadap petaninya/kelompok taninya; ilmunya — kita bisa (memberi) modal tapi kalau enggak ada ilmunya rugi juga — ikannya pada mati gitu kan.

## 21. Klarifikasi angka penganut pemahaman fanatik (tanya ulang)

**BEM/Panitia:** Izin, Pak — berarti yang pemahaman tentang itu — yang KB, disuntik (vaksin) enggak boleh dari ustaz segala macam — itu memang banyak banget ya di sini? 70%-nya?

**Sekdes:** Ya — kalau itu sih: pemahaman yang anti (disebut) fanatik agama memang **70%** (di situ). Tapi **seiring berjalannya waktu itu mengkerucut**: jadi yang anti untuk disuntik — di-KB itu — mungkin **30%-an**. Tapi (dari) yang 70% itu ada juga yang pakai KB. Mengkerucut — yang **ekstrem** sampai enggak boleh sekolah itu ada; yang sampai (ke) yang 30% itu, (dengan) "enggak boleh sekolah, ke pemerintahan enggak boleh ikut" — itu ada. Nah — ini ada di kampung sini, kampung namanya **Lengkong** — kita juga enggak pernah diundang-undang ke sana; misalnya ada undangan ke sana, kepala desa enggak pernah hadir di acara mereka — enggak pernah.

## 22. Data desa

**BEM/Panitia:** Kalau boleh tahu, desa ini ada berapa kampung, Pak? Kan desa menaungi beberapa kampung.

**Sekdes:** Ini **45 RT** satu Sindang Jaya. Itu Gunung Gede juga masuk ke sini.

**BEM/Panitia:** Oh, ada kampung-kampung kecil di bawah Sindang Jaya?

**Sekdes:** Ada di bawah — Kampung **Tumaritis** itu di sana, di Gunung Batu; dan ke atas, Kampung Tumaritis itu ke bawah (arah) ke Gunung Gede. Jadi ke atas gitu.

**BEM/Panitia:** Penduduk Desa Sindang Jaya ini berapa, Pak?

**Sekdes:** **14.000**.

**BEM/Panitia:** Kalau untuk persebaran demografinya, paling banyak usia berapa sampai berapa?

**Sekdes:** Yang paling banyak — (usia) **20 sampai 50** ya. Lansia banyak juga Pak, di sini — kurang lebih **10%**.

**BEM/Panitia:** Kalau boleh tahu, per tahun biasanya ibu hamil banyak atau tidak, Pak? Apakah terdaftar?

**Sekdes:** Kalau khusus/spesifik datanya ada (di unit pendataan desa) [? istilah tidak jelas]. Posyandu juga berperan terhadap penanganan.

**BEM/Panitia:** Berarti Posyandu-nya aktif terus, Pak?

**Sekdes:** Aktif. Ada beberapa yang susah (ditangani) karena (korban) itu — jadi dikasih **vitamin A tidak boleh**: "(itu) dari pemerintah, racun", atau apa — ada (yang beranggapan) seperti itu, tapi tidak semuanya. Ada kalangan-kalangan atau orang-orang seperti itu, masih ada. (Dan) ada kendala **BPJS (baru ke desa)**.

## 23. Administrasi & teknis kedatangan

**BEM/Panitia:** Berarti analisis situasional kami udah dapat nih, kurang lebih. Untuk hari-H, secara administratif apa saja, Pak, yang perlu kami persiapkan? Kalau tadi Bapak bilang Bapak yang akan mengoordinasikan kepada perangkat-perangkat terkait — maka apakah perlu ada proses tambahan yang kami siapkan terlebih dahulu? Kemarin Bapak sudah menerima **surat pengajuan** kami — apakah ada tambahan? Apakah nanti harus ada surat undangan resmi? Kemudian protokolnya — apakah kami harus ada **titik kumpul** dulu untuk acara pembukaan, baru kemudian menyebar ke titik-titik? Dan yang kami tanyakan: kira-kira di **titik mana fiksasi** kami laksanakan — harapannya bisa dekat dengan **camping ground** kami.

**Sekdes:** Nah, untuk nanti di lokasi pertama itu berapa mahasiswa yang —

**BEM/Panitia:** Kurang lebih ada **80** sih, Pak. Karena banyak, kami bagi jadi **tiga titik** — supaya enggak menumpuk di satu titik dan menyebabkan mahasiswa ini enggak ngapa-ngapain; kan enggak enak kalau begitu.

**Sekdes:** Ya mungkin nanti di lapangan saja — di sana — di sekolah (itu) ada (lapang): **kita kumpul dulu di sana**; kalau (sudah), nanti kan disebar ke lokasi tiap-tiap lokasi; insyaallah (lokasinya) berdekatan.

**BEM/Panitia:** Oke. Jadi berarti tetap keluar dari **pintu tiga**, dari Mandalawangi — ke Cibodas, kemudian jalan. Yang pintu tiga itu yang gapura — yang depannya ada **jembatan** ya, Pak?

**Sekdes:** Iya, iya. (Dan) untuk ke Cibodas itu — kan Mandalawangi itu kan **di luar area Cibodas** — tapi nanti (kalian) melewati **Taman Cibodas** kan.

**BEM/Panitia:** Oh, betul. Itu (tiketnya) sudah masuk — bebas atau —?

**Sekdes:** Sudah. *(Catatan: tersedia akses/akomodasi seperti dijelaskan dalam rekaman.)*

**BEM/Panitia:** Jadi jalan kaki. Kalau saya lihat kemarin, (perjalanan) ke Gunung Batu sekitar **2,5 kilo** ya, Pak — dan saya lihat juga, satu **aspalnya sudah bagus**, kedua **pemandangannya bagus**. Jadi harapannya teman-teman mahasiswa baru (bersenang-senang) — seakan enggak berasa jalan, gitu, Pak.

## 24. Dukungan teknis dari desa

**Sekdes:** Nanti kan saya **koordinasikan dengan RW**-nya di sana — untuk memfasilitasi mungkin tempat — dan juga berkoordinasi dengan **Karang Taruna** di sana; kemudian dengan **Posyandu** nanti (kita) koordinasi juga.

**BEM/Panitia:** Untuk penyuluhan kan kalau ada sesi khusus ibu hamil — masyarakat nanti mungkin di Posyandu ada penyuluhan dari **dosen** (tentang gizi atau apa) — nanti mungkin (butuh) kursi?

**Sekdes:** Kalau enggak (disediakan) kursi juga mungkin bisa kita sediakan. (Atau di) **madrasah** — tempat kumpul — ada **aula**-nya (di sana).

## 25. Respon masyarakat & jejak pengabdian sebelumnya

**BEM/Panitia:** Sebenarnya untuk memobilisasi masyarakat, untuk mengundang — biasanya kalau di sini, sebelumnya apakah sudah ada (yang) sering pengabdian masyarakat atau tidak, Pak? Kemudian respon masyarakat terhadap (kegiatan) pengabdian itu seperti apa sih, Pak?

**Sekdes:** Kalau untuk (titik) di sana itu sebenarnya belum pernah — **belum pernah sama sekali**. Kebetulan kalau di (s)ini mah pengabdian yang ada mah lebih kepada **tanaman** — seperti pertanian, ke kebun. Ada sih (yang) pernah — tapi yang sering-sering itu pertanian. Kemarin juga kan ada — itu lebih kepada **ibu PKK** untuk membuat **brownies**, kue. Kalau yang langsung ke masjid itu **belum pernah** sebenarnya.

**BEM/Panitia:** Ibu PKK (nih) aktif, Pak, di sini?

**Sekdes:** Aktif.

**BEM/Panitia:** Apa dari ibu-ibu PKK pernah menghasilkan produk olahan — jadi produk desa, Pak?

**Sekdes:** **Belum ada.** Jadi baik dari komoditas maupun ibu PKK memang belum ada produk unggulan. Jadi kalau misalkan datang ke Desa Sindang Jaya, ada yang (bisa) dibawa — selain sayur — paling biasa bawanya itu di **koperasi ada kripik usus** [?] (produk) olahan. (Ada) di koperasi desa ini — di depan koperasi desa.

## 26. Operasional Posyandu & arah kerja

**BEM/Panitia:** Pak, di Posyandu itu ada enggak sih, misalkan, akses di saat operasional Posyandu — ada berapa **pos**, Pak, dalam satu Posyandu — misalkan ada beberapa meja?

**Sekdes:** Itu **tiga**.

**BEM/Panitia:** Berarti tidak terlalu sulit untuk mengaturnya — untuk misalkan mau menimbang sekaligus mengecek kehamilan itu, berarti ada di (satu) ruangan?

**Sekdes:** Oh, ada di ruangan. (Tapi kan) yang enggak punya bangunan itu di rumah warga — memang beberapa Posyandu merupakan **rumah kader**; kemudan ada yang di **sekolah**, ada yang di **majelis taklim**.

**BEM/Panitia:** Tapi ada kesulitan alur enggak, Pak — kadang ada yang mengeluhkan bingung mengatur alurnya?

**Sekdes:** Udah-udah terbiasa (gitu). Dan kadang-kadang Posyandu di sini sudah cukup terlatih juga ya, Pak.

**BEM/Panitia:** Oke. Kemudian — sebelumnya dari Pak (Deden) ini sudah menginformasikan (kepada kami) bahwa (pihak desa) merekomendasikan SD lain, selain dari SD (di) sini [nama tidak jelas, ?]. Nah, kira-kira letak SD yang Bapak rekomendasi itu di mana?

**Sekdes:** Kalau dekat dengan desa sih — di sini — ada SD. Tapi kan nanti (kita sepakati) fokusnya kan **SD batal** ya — kan gurunya enggak ada — kita lebih kepada **PAUD**.

**BEM/Panitia:** Kalau PAUD memang di sana juga berdekatan — PAUD dengan Posyandu?

**Sekdes:** Di Kenari itu ada PAUD-nya, ada Posyandunya.

**BEM/Panitia:** Kalau memang (titik) di PAUD, Pak, berarti guru-gurunya apakah bisa kami **undang untuk dihimpun** — (guru) seluruh PAUD di Sindang Jaya?

**Sekdes:** Boleh — bisa aja. Nanti kontak PAUD itu saya kirim (ke kalian).

**BEM/Panitia:** Pak, izin tanya — mohon maaf agak sedikit (enggak tahu) sensitif atau enggak: kira-kira respon masyarakat ketika (mereka) diundang (dihadiri acara) pengabdian masyarakat di sini seperti apa ya, Pak? Apakah biasanya antusias saja?

**Sekdes:** Alhamdulillah — **antusias**.

**BEM/Panitia:** Untuk jumlahnya nanti apakah kami yang tentukan, Pak? Izin untuk mengundang masyarakat sekitar **30 (orang)** gitu, atau —

**Sekdes:** Boleh aja, tentukan (sendiri).

**BEM/Panitia:** Untuk saat ini ibu hamil yang masih mengandung masih banyak, Pak?

**Sekdes:** Ada — semua (tersebar). Di manapun Posyandu ada.

**BEM/Panitia:** Oh, tersebar di tiap Posyandu? Berapa Posyandu, Pak?

**Sekdes:** Ada **18 Posyandu**.

**BEM/Panitia:** Yang paling dekat dengan (titik) rencana kedatangan kami, kira-kira Posyandu apa, Pak — namanya?

**Sekdes:** **Pipit**.

**BEM/Panitia:** Posyandu Pipit itu berarti dekat dengan jembatan tiga (— pintu tiga) — juga dekat dengan masjid, dekat dengan PAUD, dekat dengan Posyandu — tiga-tiganya ada di situ, Pak?

**Sekdes:** Iya, (tiga-tiganya) di situ. (Dekat madrasah juga.)

**BEM/Panitia:** Madrasah itu madrasah apa, Pak, ibtidaiyah — atau semacam tempat majelis taklim?

**Sekdes:** Oh, majelis taklim — (untuk) ibu-ibu ya. Tapi tempatnya bisa digunakan nanti untuk penyuluhan.

**BEM/Panitia:** Tapi di sini ada madrasah **diniyah**, Pak?

**Sekdes:** Ada. Ada pesantren juga di sini — ada yang berisiko (…), ada yang salafi — kalau yang (pesantren) salafi itu enggak sekolah, cuma pesantren aja, belajar agama saja. Madrasah diniyah-nya **tersebar** (di beberapa titik). Tapi memang yang (guru) madrasah diniyah itu enggak ikut (ke acara) yang (tadi —) Porseninya guru (— itu kan) untuk guru SD; persatuan guru (PGRI) itu guru SD. Untuk guru madrasah — (itu) enggak ada; guru madrasahnya setingkat SD, Pak, (tapi) gurunya enggak ikut ke situ. Kalau di sini mah disebutnya **sekolah agama/**(kalau di kampung) — (semacam) **TPA** — belajar ngaji.

**BEM/Panitia:** Saya pikir kan kalau di Jakarta madrasah itu ada madrasah ibtidaiyah (setingkat SD), ada madrasah tsanawiyah, tapi tetap belajar ilmu-ilmu umum lainnya — kalau di sini diniyah (fokus) agama aja ya, Pak?

**Sekdes:** Iya, belajar agama aja. (Jadi) fokusnya belajar agama aja, Pak.

**BEM/Panitia:** Kira-kira berapa, Pak, total guru PAUD yang mungkin sekiranya bisa hadir?

**Sekdes:** Ya kalau semuanya sih kan ada **70**-an. Mungkin (yang bisa hadir) ada **20**-lah.

**BEM/Panitia:** Dari teman-teman ada lagi tambahan, atau mungkin dari Bapak ada lagi yang ingin disampaikan — hal-hal yang perlu kami perhatikan sebelum pelaksanaan/perencanaan?

## 27. Harapan desa: berkelanjutan, bukan seremonial + isu seblak

**Sekdes:** Mungkin — kegiatan ini bisa **berkelanjutan** ya, bukan hanya sebatas seremonial (sehari) — tapi bagaimana caranya **merubah** (kebiasaan) di masyarakat. Semacam perubahan di masyarakat: yang tadinya … — setidaknya walaupun tidak maksimal 100% — ada **tahapan-tahapan** untuk menuju (ke arah) yang lebih baik. Contoh: yang tadinya masyarakat kurang menjaga kesehatan, makanan-makanannya enggak bener — ketika ada penyuluhan, (tahu) "anak-anaknya dikasih makan bergizi itu bagaimana."

Di sini mah — karena kurangnya pemahaman — **banyak yang meninggal karena terlalu banyak makan seblak**, ibu-ibu itu kan. Pagi-pagi seblak, anak-anak juga begitu. Saya juga ada di sana waktu kunjungan itu — ditanya: sering makan seblak sehari itu bisa **empat sampai lima kali** — jadi sarapan, makan siang, makan malam, seblak semua — jadi kecanduan seblak.

**BEM/Panitia:** Aduh, emang (ramai) seblak di sini ya, Pak — saya kalau lihat di peta *Maps* juga banyak (penjual seblak).

**Sekdes:** Iya. Jadi ini tempat sayuran tapi jarang (mampir) makan sayuran — malah makan seblak, yang pedas-pedas. Nah itu bagaimana kan: (rumah tangga ada yang) meninggal (karena) anak (bekajan/akibat) — (anak) usia SD gitu — ibunya juga kan (diasuh) — dimakan(-i) seblak. Otomatis asupan gizi ke bayi kan (nol) — asupan gizi mana dari seblak kan enggak ada gizinya. Nah, itu mungkin dengan adanya penyuluhan nanti, minimal yang harus kita edukasi itu: **gizi ibu hamilnya, gizi anaknya**. Kemudian yang sampahnya ya — pembiasaan untuk tidak membuang sampah sembarangan — caranya: buat ecobrick itu bisa dibuat untuk apa?

Jadi bingung ya — sudah dibuat ecobrick di rumah itu ngumpul — jadi (lagi) sampah di rumah, karena enggak bisa dibuat jadi bahan-bahan atau alat (yang) bermanfaat — apakah bisa dibuat misalkan jadi **asbak** — atau dibuat misalkan jadi **kursi** — kita juga enggak tahu caranya; jadi penumpukan sampah lagi gitu — bukan menyelesaikan masalah, tapi ada masalah baru.

**BEM/Panitia:** Tapi kalau permasalahan sampah ini, berarti targetnya adalah masyarakat umum, ya, Pak — dan kalau kita ingin merealisasikan hal itu (edukasi), berarti nantinya apakah ada undangan buat seluruh masyarakat, atau —

**Sekdes:** Iya — secara (umum) seperti itu; kita undang semuanya — itu bentuk dari kelanjutannya.

## 28. Preseden baik: mahasiswa 2014 (IPB) pembuka jalur supermarket

**Sekdes:** Nanti ke depannya mungkin kita fokus untuk di satu titik itu — bagaimana caranya berkelanjutan ke depannya — jadi yang tadinya tadi (benar-benar) ada perubahan di desa ini, dengan adanya mahasiswa memberikan perubahan terhadap masyarakat. Contohlah: dulu — sampai sekarang masih ingat — ada mahasiswa dari Jakarta, yang waktu itu pengabdian di sini — yaitu **membuka jalan untuk menyuplai sayuran ke supermarket** yang ada di sana. Yang membuka jalannya itu mahasiswa. Sampai sekarang itu (mahasiswanya) **dicari sama warga, tapi enggak ada** — hilang — dicari di Facebook enggak ketemu. Maksudnya: dulu dia mempraktikkan tentang — pemasaran — kepada kelompok-kelompok pemuda tersebut; setelah diedukasi mereka paham — (tahu) cara menjual itu ke mana — dia *channel* di sana (menghubungkan).

**BEM/Panitia:** Oh, jadi dia menghubungkan — dan sampai sekarang berjalan ya, sukses ya?

**Sekdes:** Sampai sekarang itu kalau ada — saya akan (pertemukan) dengan kelompok masyarakatnya. (Tapi) namanya … enggak tahu kampus dari mana — dulu itu: ITB — ITB — bukan, **IPB** — IPB yang (masa) penanaman Bogor? Oh, IPB ya? IPB. Dulu mah enggak apa — enggak (sempat) tukar-tukar WA atau apa — *lost contact* aja. Tapi memang berhasil — sampai sekarang itu kan manfaatnya **mengalir**. Perubahannya mengalir sampai sekarang. Mungkin jadi amal jariah buat beliau juga — tidak kerasa — itu bisa menyejahterakan sekelompok masyarakat, walaupun tidak semua; minimal agen perubahan bagi segelintir masyarakat yang tadinya buntu dengan jalan ini; harus — dengan adanya kedatangannya memberikan ilmu — ada harapan di sana; setidaknya menjadikan perubahan bagi kelompok tersebut. Mungkin ke depannya, walaupun kita enggak (semua sempurna) — niat kita memberikan kebaikan aja lah — ke masyarakat, dan kegiatan tersebut nanti dikenang oleh masyarakat gitu, Pak.

## 29. Kesiapsiagaan bencana

**BEM/Panitia:** Kemudian Pak — apakah (desa ini) dekat dengan Gunung (Gede Pangrango), di depan itu?

**Sekdes:** Iya, dekat banget.

**BEM/Panitia:** Kalau boleh tahu — di sini apakah sering terjadi bencana longsor atau seperti apa, Pak? Kemudian apakah memang di sini Desa Sindang Jaya (pernah) lewat aliran — apa sih bahasanya — lahar dingin, kah — misalkan (jika) erupsi? Terus warga di sini kondisinya apakah memang sudah jeli atau sudah melek dengan evakuasi, atau memang (sudah ada) tanggap bencana — biasanya?

**Sekdes:** (Insyaallah) tanggap — sudah settle (kondisinya) — oke. Karena kan juga ada **gempa** kan. Di sini ada gempa juga, Pak — kemarin (kejadian gempa) ini semuanya (rumah-rumah pada) ini — baru direhab — rumah-rumah pada hancur. Tapi kan kita ada **Retana** kan — Retana itu Relawan Tanggap Bencana. (Jadi) kalau bencana: kita buat **dapur umum**; kan (seringnya listrik) mati (jika) lampu; kita (siapkan) — kalau bencana ada (kebutuhan) ambulan juga (kita penuhi); kita juga ada — di sini — tanah (lapang untuk posko). Jadi ee — tidak kesulitan lah ya.

**BEM/Panitia:** Insyaallah. Kemarin kan gempa — cukup besar — alhamdulillah kita semuanya kompak, gitu, Pak.

## 30. Keberlanjutan dari pihak kampus & usulan PKS

**BEM:** Kalau untuk (berkelanjutan) ya, Pak — *sustain* — dari saya sih kami sangat berusaha semaksimal mungkin agar yang kami lakukan bukan hanya seremonial: makanya kami melakukan analisis situasional, kita lihat benar-benar apa yang dibutuhkan, permasalahannya apa. Kalau dari segi pelaksanaannya sendiri insyaallah **sustain** ya — setidaknya mungkin setahun sekali. Atau niatnya malah dari **dekan kami** izin menyampaikan — ingin mengajukan **surat perjanjian kerja sama (PKS)**. Jadi mudah-mudahan setiap beberapa bulan sekali, atau setiap tahun, ada mahasiswa kami yang terjun untuk pengabdian masyarakat ataupun memberikan edukasi — karena banyak juga Pak (topik) yang sampai saat itu masih sustain — seperti budidaya pakan ternak, ataupun pengolahan bahan makanan. Mudah-mudahan kalau seperti itu bisa **menggerakkan ekonomi desa** juga — kalau terus-terusan bertahan dan *sustain* gitu, Pak.

## 31. Periode tanam & persoalan harga

**BEM/Panitia:** Pak, kalau periode panennya itu biasanya (cepat) — kalau sayuran kan cepat, sebulan kan — kalau di sini bawang daun ya?

**Sekdes:** Kalau bawang (daun) itu lamanya **3 bulan**. Cuman dalam satu tahun kalau dibagi rata itu bisa **empat kali** — cuman bagusnya itu tetap **dua kali periode** yang bagus. Karena kan sekarang menuju ke bulan Januari ini — di situ (bersamaan) angin besar — jadi (tanaman) rusak. Karena dataran tinggi, (nanti) anginnya besar. Jadi biasanya mau setahun dua kali lah; (sebenarnya) bisa tiga kali — cuma … yang bagus-bagus (produknya). Kalau padi pun kalau di Cianjur puncak panennya (di waktu-waktu tertentu).

**BEM/Panitia:** Tapi kalau di sini, semua hasil kebun sudah terdistribusi dengan maksimal, Pak, atau —

**Sekdes:** Ya gini: kalau misalnya sekarang kan harga sayuran lagi lumayan — terdistribusi dengan baik. (Nah) kalau misalnya harga panennya lagi **jeblok** — lagi turun — ya daripada (untung) ongkos dia bawa (ke pasar), mending ya udah **dibusukkan di sana (kebun) aja**. Seperti **tomat** — harga jual cuma **Rp500-an per kilo**; (untuk) upah memetiknya saja udah lebih dari segitu — ya udah dibiarkan busuk aja.

**BEM/Panitia:** Oh — tapi di sini ada tomat juga, Pak?

**Sekdes:** Ya, tomat ada. Justru beginilah, Pak: enggak semua seragam — (tergantung) kepercayaan/PD si petani mau tanam apa — jadi **enggak ada komoditas yang konsisten**. Cuma kalau diurut, banyaknya bawang (daun) gitu — kalau tomat ada aja gitu.

**Panitia:** Kebetulan dosen kami ada yang membuat **olahan saos tomat** — bukan meneliti, Pak — (produk) olahan. Nah kalau memang seperti itu, kan kalau memang tomat lagi turun itu bisa aja warga mengolah — ada produk olahan yang (harga jadinya) lebih tinggi. Tadi kita tanya-tanya mudah-mudahan kami bisa menghadirkan nanti penyuluhan atau sosialisasi bagaimana mengolah produk (mentah).

**Sekdes:** Soal (itu) dari **IPB** pun pernah ke sini: bagaimana cara membuat — **sayuran kering** — kaya suka ada di (kemasan) Indomie itu kan ada sayuran keringnya; (dosen IPB) datang ke sini, mempraktikkan sampai sayuran keringnya itu jadi. Nah, setelah jadi, kita bingung di **pemasaran** kita — enggak bisa menciptakan pemasarannya — susah ya — kita (akhirnya) mandek lagi, seperti itu sih.

## 32. Profil kampus & obrolan ringan

**BEM:** Kalau (UAI) sama Al-Azhar Kairo itu **beda** — "belok dikit", Pak, jadi: Al-Azhar sini itu (berada dalam) naungan **Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar** yang ada di Jakarta. Kalau kenal mungkin tokohnya: **Buya Hamka** ya, salah satunya.

**Sekdes:** (Yang orang) Cianjur — bukan yang Padang?

**BEM:** Iya, betul. Memang ada sejarahnya: nama kami tuh awalnya bukan Al-Azhar — tapi dinamakan Al-Azhar karena kebetulan **rektor Al-Azhar Mesir datang** ke wilayah kami, lalu menamakan **Al-Azhar Indonesia** — jadi pembedanya: Al-Azhar **Indonesia**.

**Sekdes:** (Saya) kira (keduanya) satu yayasan aja gitu — satu *trademark* lah, kalau misalnya Indofood …

**BEM:** Ya — (kalau Indofood kan) beda. Kalau yang Kairo memang fokusnya ke **studi agama, studi bahasa** — gitu-gitu kan. Kalau kami **komprehensif** — ada teknologi juga, ada semua — identitasnya memang kampus Islam (tapi) itu (agama) sebagai dasar, Pak, *value* — nilai yang ditanamkan. Tapi kalau isinya — enggak — (contoh) dari saya pribadi itu **Ilmu Komputer/Informatika** — ada semua di Al-Azhar.

**Sekdes:** (Kebetulan) keponakan saya lulusan **Gontor** — sekarang di Al-Azhar, di **Kairo**. (Tapi) bukan hanya di Jakarta — ada (kampus) — apa — di Jawa Tengah itu ada (juga kan)?

**BEM:** Oh — saat ini kampus Universitas Al-Azhar Indonesia ini **satu-satunya di Jakarta**, Pak. Belum ada cabang lagi.

**Sekdes:** Di daerah mana (di Jakarta)-nya?

**BEM:** Jakarta Selatan — di (sekitar) **Blok M**, Pak.

**Sekdes:** Oh, Blok M — kalau mau ke kota, blok (tengah-tengah) di kebetulan memang (dapat) **Senayan** — dapat Senayan. Tapi itu mahasiswanya dari berbagai wilayah?

**BEM:** Iya — jumlah (mahasiswa kami) memang cukup banyak, Pak — (dan mereka dari) berbagai wilayah. Saya sendiri dari **Pekalongan**.

*(Selingan canda dialek Sunda seputar "Pakalongan" dan "mudik kampung orang".)*

**BEM:** Bukan hanya dari Jakarta saja, maksudnya ya — bahkan teman kami juga banyak yang dari **Aceh**, dari Sumatera, **Kalimantan**, **Papua** juga ada — hampir semuanya, Pak. Dosen-dosennya juga tersebar dari berbagai daerah.

## 33. Dukungan logistik & rencana kedatangan

**Sekdes:** Nanti kalau (kalian) butuh mobil nanti, untuk hari itu kan mobil — ada — untuk logistik (atau) apa-apa saja yang (kami) bisa bantu — insyaallah kita bantu. Jangan sungkan-sungkan ya — misalkan: "Pak, ini saya minta tolong, bantu ini" — insyaallah — kita ada **kepala dusun, ada RT, ada RW**, ada **lembaga desa** kita — banyak (jaringan kami); (untuk) akomodasinya Pak aja (bilang) — sok kepada saya aja.

**BEM/Panitia:** Siap. Oke. Kalau gitu, Pak (Deden) — terima kasih banyak — itu sih cukup, sudah sebagai analisis kami. Insyaallah setelah ini akan kami cepat garap — karena sudah ada tempat *fix*-nya ya, Pak — jadi supaya nanti kami langsung memberikan **draf**: ini sudah ada produk — program *fix*-nya; kami butuhnya ini-ini — supaya benar-benar langsung kita garap bersama. Nanti insyaallah akan kami konsultasikan juga ke dosen-dosen kami, karena barangkali mungkin dosen kami juga akan berkontribusi — menyediakan alat — karena dosen-dosen kami juga punya riset, punya pengabdian masyarakat, dan punya banyak penemuan alat — bahkan termasuk ecobrick: salah satu — **wakil dekan kami — juga meneliti tentang paving block itu, Pak. Dari ecobrick itu jadi paving block — sudah teruji, sudah dibuat paper-nya, sudah dibuat jurnalnya.** Jadi mungkin dari beliau nanti akan menjelaskan bagaimana nanti — dari paving block yang sudah menumpuk itu — ternyata lolos (uji), kemudian bisa dijual/dipakai.

Kemudian — apakah ada agenda atau enggak tahu ya — ada agenda (kunjungan) selanjutnya buat kembali lagi ke sini, atau langsung di hari-H? Yang pasti kami izin untuk terus **berkoordinasi — baik WhatsApp atau *online* — ke Bapak**. (Dulu) nomor HP kan pernah ada yang menelepon saya — namanya siapa ya — Safa. (Nanti) kalau (yang) lain mau WA saya juga boleh.

**Sekdes:** Tapi paling tidak mungkin di hari Sabtu ya — di **hari Sabtu kita pasti akan ke sini**.

**BEM/Panitia:** Hari Sabtu. Hari Jumat juga kayaknya mungkin akan ada (kami) di sini juga.

**Sekdes:** Berarti (kempingnya) di sana itu di mulai dari hari apa?

**BEM/Panitia:** Sabtu, Pak — dari mulai Sabtu.

**Sekdes:** Berarti (mobilisasi) di sana pakai mobil pakai apa — (seperti) truk — biasanya kan pakai **tronton**?

**BEM/Panitia:** Iya betul — cuman trontonnya memang **pulang** (saja). Jadi makanya nanti mobilisasi anak-anak akan **jalan**. Tapi kalau memang nanti ada alat, kemudian ada barang-barang yang akan kami sumbangkan, itu kami ada **losbak**, Pak — ada kendaraan-kendaraan yang kami pakai buat mobilisasi — tapi buat anak-anak nanti kami juga akan berjalan (ikut jalan) ke tempat.

**Sekdes:** Sekalian — bisa juga tambahan (pengamatan ke) bioflok-nya. Dan tambahan terhadap pendidikannya dari tadi: tambahan informasi mengenai **PAUD kita itu pernah mendapat penghargaan terbaik se-Jawa Barat** [? konteks tidak jelas sepenuhnya] — takutnya nanti ada (yang bisa kalian angkat) — sebuah inovasi lah — yang bisa meningkatkan lagi pendidikan PAUD tersebut.

## 34. Paving block — kebutuhan desa & PADes

**Sekdes:** Nah — terus tadi mengenai paving block: kalau misalnya itu bisa — **jangankan dijual — kita pakai pun sekarang kita membutuhkan banyak paving block ya, buat jalan desa, buat fasilitas lapangan** di sana. Apakah nanti misalnya bisa mengembangkan di bidang paving block — kami sangat berterima kasih: sampah tertanggulangi, *outcome*-nya itu kita dapat **blok** yang bisa dipergunakan masyarakat. Kalau bisa lagi (agar) dipertajam lagi ke situ.

Ya, kita juga kan punya ini — salah satu (sumber) untuk desa masih tetap bertahan — dikarenakan anggaran juga sudah dipangkas: desa itu gimana caranya supaya **bertahan**? Salah satunya dengan kita memiliki **penghasilan hasil desa — PADes**. Jadi kita mempunyai **lapangan desa** yang disewakan — bukan hanya warga desa saja yang nyewa — tapi seluruh (wilayah) dari Cianjur (sekalian) sewa di sana. Hasil uang sewa tersebut nanti **digunakan untuk pembangunan di masyarakat — untuk bantuan kemiskinan**— jadi tidak mengandalkan dari dana desa, dari pusat. Nah, kebetulan di sana kan ada (sarana di) lapangan desa itu (yang) **belum maksimal**. Jadi mungkin semacam dorongan-dorongan (bantuan) — (boleh itu) berupa teknologi — sebagai contoh: kita bukannya membanding-bandingkan — kemarin, 2 minggu yang lalu, **Universitas Pertamina** juga ke sini pengabdian masyarakat — dikasih **lampu**, dikasih (bantuan) untuk **menerangi jalan** ke lingkungan — jadi ya kita berterima kasihlah dengan datangnya adik-adik mahasiswa ke sini. Saya juga pernah mahasiswa kan — dulu kita (ikut) KKN-… gitu. Jadi ya sama-samalah kita memajukanlah.

**BEM/Panitia:** Pak, kalau boleh tahu — di sini (untuk produk) paving block-nya apakah sudah ada yang jadi?

**Sekdes:** **Belum.** (Kalau) ecobrick-nya sudah ada — nanti (sampai) sekali (ke) di belakang juga ada — tapi kan ecobrick itu bebas: mau (diisi dalam botol) galon, mau ke mana — yang penting padat. Cuman kan kalau paving kita **enggak ada teknologinya** di sini. Jadi sampai saat ini baru (sampai) ecobrick saja.

## 35. Penutup

**BEM/Panitia:** Kalau memang seperti itu: terima kasih banyak, Pak, atas pemaparannya, atas diskusi malam ini — dan insyaallah akan kami segera garap; mudah-mudahan kami usahakan sebesar mungkin untuk kebermanfaatan, untuk masyarakat sini — enggak cuman bermanfaat satu hari, tapi *sustain* ke depan. Itu aja sih, Pak, dari kami. Mohon maaf juga kalau memang tadi ada pertanyaan atau diskusi kami yang kurang berkenan. Setelah ini kami izin **pamit** — segera ke Jakarta; teman-teman juga ada yang masih kelas besok, hari Sabtu. Tapi untuk *update*, kami izin untuk terus berkontak-komunikasi dengan Pak Deden.

**Sekdes:** Iya — boleh, boleh.

**BEM/Panitia:** Siap. Itu aja, ya. (Nanti) minta (kami kirim) rundown acaranya — **3 hari sebelum acara**, ya, Pak.

*(Tukar-tukar nomor HP/kontak — salah satu menyebut "dari Rizki, Pak".)*

**BEM/Panitia:** Oke, kalau kayak gitu kami izin langsung, Pak. Nanti izin dari Rizki dan lain-lain. Mudah-mudahan lancar acaranya.

**Sekdes:** Amin. Sekali lagi terima kasih, ya.

**BEM/Panitia:** Kami juga — terima kasih, Pak.

---

# BAGIAN C — LAMPIRAN

## C1. Peta benang topik ↔ sumber rekaman (bukti satu linimasa)

| Topik di linimasa | `PAK DEDEN.mp3` (par. mentah) | `5.53 PM` (par. mentah) | `6.51 PM` (par. mentah) | TurboScribe (±0–30 mnt) |
|---|---|---|---|---|
| 1–6: Pembuka – PAUD sbg keputusan | [107]–[127] | **belum terekam** | — | ✔ ada utuh |
| 7–9: Kesejahteraan PAUD → fiksasi kebutuhan | [128]–[137] | [1]–[9] | — | ✔ (sampai ±menit 25) |
| 10: Sampah/ecobrick | [138]–[141] | [10]–[14] | — | — (terpotong) |
| 11–12: Stunting & fanatisme | [141]–[152] | [14]–[25] | — | sebagian (berakhir di [±145]) |
| 13–21: Biopori → peternakan → 70%/30% | [152]–[189] | [25]–[59] | — | — |
| 22–26: Data desa → ops. Posyandu | [190]–[207] | [60]–[77] | — | — |
| 27: Seblak & keberlanjutan | [207]–[211] | [77]–[80] | — | — |
| 28–35: IPB 2014 → penutup | [212]–[237] | — | [81]–[106] | — |

Kesimpulan sama seperti Bagian A1: file 5.53 PM = potongan tengah sesi; 6.51 PM = potongan akhir sesi; `PAK DEDEN.mp3` = versi utuh — **seluruh dokumen adalah satu percakapan, satu waktu**.

## C2. Catatan ketidakpastian yang tersisa (perlu verifikasi dengar ulang jika kritis)

1. **Nama PAUD unggulan** — transkripsi bervariasi: "Ranggeng Duta"/"Langgeng Garjita"/"Ranggeng Gadjah".
2. **TPT** — kemungkinan "tembok penahan tanah" (konstruksi yang konon pernah dibuat dari ecobrick tanpa uji kekuatan).
3. **"Sagari/Segari"** — kemungkinan startup agritech "Segari" (sesuai konteks: lulusan ITB/IPB, pabrik di Sindang Jaya, kirim ke supermarket Jakarta).
4. **"Balabung/Balambo"** — lokasi cabang pesantren; tidak pasti.
5. **"Adol"** — nama wilayah yang disurvei Sekdes; tidak pasti.
6. **"PPL"** — unit/istilah pendataan desa (data ibu hamil & kematian); tidak jelas.
7. **Penghargaan PAUD** — "terbaik se-Jawa Barat, (tepatnya) …"; kata kunci lokasi tidak jelas.
8. **"Tanggal 25 = Hari Guru/HUT PGRI"** — demikian diucapkan narasumber (dengan kaitan Porseni guru se-Kecamatan); secara kalender nasional, Hari Guru Nasional jatuh **25 November** — kemungkinan yang dimaksud rangkaian acara setempat pada tanggal 25 Oktober. Dicatat apa adanya sesuai ucapan.

## C3. Ringkasan keputusan & tindak lanjut (dari keseluruhan sesi)

1. **Titik SD batal** → sasaran pendidikan dialihkan ke **guru PAUD se-desa** (±20 hadir dari total ±70), dikumpulkan di aula desa/PAUD rujukan; **masjid & Posyandu tetap**.
2. **Lokasi kegiatan**: kawasan **Posyandu Pipit** — satu area dengan PAUD, masjid, dan madrasah; titik kumpul awal di lapangan sekolah.
3. **Waktu**: **Minggu, 25 Oktober 2026**, kegiatan ±3 jam (mobilisasi sebelum zuhur → kegiatan zuhur–asar), serempak 3 titik; ±80 mahasiswa dibagi 3 kelompok; jalan kaki ±2,3–2,5 km dari pintu tiga Cibodas.
4. **Program inti**: workshop peningkatan kapasitas guru PAUD (+ pojok literasi/donasi buku) • edukasi kesehatan Posyandu (gizi, stunting, ibu hamil–balita–lansia; poster) • revitalisasi ringan masjid (cat, WC, wudu, kipas, bersih-bersih) + alternatif pengajian.
5. **Isu prioritas yang dititipkan desa**: pengolahan **ecobrick → paving block** (riset Wadek: lolos uji — dibutuhkan untuk jalan & lapangan desa) • edukasi **KB–vaksin** (wilayah aman; hindari Jolok–Lengkong–Padajaya–Gunung Batu atas) • pengolahan sampah organik **maggot** • pengolahan produk pascapanen (**saus tomat**, sayur kering) • keberlanjutan minimal tahunan + usulan **PKS** dari dekan.
6. **Komunikasi**: koordinasi via WhatsApp (Safa/Rizki ↔ Pak Deden); **rundown dikirim tiga hari sebelum acara (H-3)**; kemungkinan tim ke sini lagi Sabtu/Jumat sebelum hari-H (kemping mulai Sabtu).
